Kenapa Kita Sering Komentar Sebelum Paham?

Ilustrasi gambar orang- orang berkomentar (sumber : freepik)


Ditulis oleh : Zikrah Nur Amalah

Jakarta, TrendNews - Pagi itu enggak ada yang istimewa. Langit masih mendung, sarapan belum matang, dan mataku masih setengah terbuka. Tapi seperti biasa, tangan udah lebih dulu mencari HP yang tergeletak di pinggir bantal.

Niat awalnya cuma mau lihat jam. Tapi jari ini, entah kenapa, malah otomatis buka aplikasi sosial media. Timeline penuh. Story temen-temen lewat begitu cepat. Scroll, like, lanjut. Scroll, like, lanjut. Tapi di sela-sela itu, ada rasa yang mulai mengganggu, kenapa ya, aku kayak langsung punya penilaian setiap kali baca sesuatu? Bahkan sebelum nuntasin baca caption, kepala udah nyimpulin sesuatu. Dan jempol pun kadang ikut gatal pengen komentar.

Aku berhenti. Napas pelan-pelan. “Kok bisa ya, semua terasa cepat banget? Tapi kenapa pikiranku malah makin sempit?”

 

Berpikir Itu Bukan Lagi Kebiasaan

Zaman sekarang, semuanya serba instan. Dari makanan sampai pendapat. Kita kebiasaan dapet info dalam bentuk potongan, tapi dituntut langsung punya sikap. Harus cepat setuju atau enggak setuju. Harus ikut dukung atau langsung kritik.

Tanpa sadar, kita terbiasa ngasih reaksi duluan, baru mikir belakangan. Bahkan kadang, enggak sempat mikir sama sekali.

Padahal dulu, berpikir itu bagian dari kebiasaan sehari-hari. Bukan soal sok bijak, tapi lebih ke ngasih ruang ke diri sendiri buat mencerna sebelum ngomong.

Media sosial bikin semua serba cepat. Kita bisa lihat ratusan opini dalam waktu satu jam. Tapi dari semua yang kita lihat, berapa banyak yang bener-bener kita pahami?

Kadang, kita terlalu sibuk terlihat “ikut” sampai lupa mikir dulu sebelum nimbrung. Lupa kalau informasi yang kita lihat itu mungkin cuma sepotong, dan enggak semua harus dipercaya begitu aja.

 

Enggak Semua Harus Ditanggapi

Dulu, aku ngerasa harus selalu nimbrung. Setiap ada topik rame, rasanya gatal banget kalau enggak ikutan kasih pendapat. Kalau diam, takut dikira cuek, takut dibilang kurang update.

Tapi makin lama, aku mulai sadar: enggak semua hal harus ditanggapi. Kadang, diam itu bukan berarti enggak peduli tapi justru bentuk usaha buat ngerti lebih dalam. Buat kasih waktu ke diri sendiri buat mikir.

Notifikasi datang terus, info numpuk, dan kepala kita dipaksa terus aktif memilah mana yang perlu disukai, dibagikan, atau dikomentari. Tapi di tengah semua itu, jarang banget kita berhenti sejenak buat nanya:

“Sebenernya aku ngerti enggak sih ini tentang apa?”

“Kalau aku komentar, itu bakal nambah nilai atau malah bikin runyam?”

Pertanyaan-pertanyaan kecil itu kelihatannya sepele, tapi penting. Karena dari situ proses berpikir bisa mulai. Kita jadi enggak buru-buru ambil kesimpulan, apalagi menyebarkan sesuatu yang belum tentu benar.

Sekarang, aku lebih milih tahan sebentar. Baca pelan-pelan. Pikirin konteksnya. Kadang malah sengaja skip hal-hal yang rasanya enggak perlu aku tahu terlalu dalam. Soalnya, energi juga terbatas.

Enggak semua hal di dunia ini butuh reaksi dari kita. Dan itu bukan berarti kita pasif—tapi justru kita lagi belajar milih mana yang penting buat ditanggapi, dan mana yang cukup disimak aja.

 

Pelan Bukan Berarti Lemah

Banyak orang mikir kalau mikir itu harus rumit. Harus baca buku berat, harus diskusi panjang. Padahal, mikir bisa dimulai dari yang simpel: kayak nahan jempol lima detik sebelum klik tombol “kirim komentar”.

Berpikir itu soal sadar. Sadar bahwa kita manusia dan bisa salah. Sadar bahwa enggak semua hal yang kita lihat itu utuh. Dan sadar juga bahwa diam itu enggak selalu berarti kalah kadang itu bentuk dari rasa hormat, baik ke orang lain maupun ke diri sendiri.

 

Aku pernah beberapa kali kelepasan komentar soal topik yang lagi rame. Pas dicek ulang, ternyata aku salah paham. Malu? Banget. Tapi justru dari situ aku belajar: mikir dulu sebelum ngomong itu penting, bukan cuma buat ngelindungin diri dari salah, tapi juga buat menghargai proses.

Sekarang, kalau lagi lihat sesuatu, aku biasain tanya dulu: “Aku ngerti enggak sih ini beneran?” atau “Apa komentar ini beneran perlu?” Enggak harus mikir lama juga. Cukup kasih jeda.

Dan ternyata, dengan memberi waktu buat mikir, aku jadi lebih tenang. Lebih jarang terbawa emosi. Lebih jarang juga nyesel habis komentar.

Di antara scroll dan swipe yang terus berjalan, ada pikiran yang harus kita jaga. Kita boleh aja aktif, boleh banget punya opini. Tapi jangan sampai reaksi kita jadi refleks yang kehilangan makna.

Berpikir memang enggak bikin kita viral. Tapi berpikir bisa bikin kita waras. Dan itu lebih penting dari apapun.

Mungkin di dunia yang makin cepat, jadi manusia yang memilih pelan-pelan itu bukan kelemahan. Tapi bentuk kedewasaan. Tanda bahwa kita enggak mau asal ikut-ikutan, tapi pengen tetap waras dan bijak di tengah kebisingan.

Komentar