Diam Bukan Selalu Emas


Ditulis oleh : Zikrah Nur Amalah

Jakarta, TrendNews - Aku pernah diam saat seharusnya aku bicara. Saat seseorang membutuhkan keberanian kecil dari orang di sekitarnya dan aku, justru memilih menunduk.


Itu terjadi waktu sekolah dulu. Seorang teman, Rani, dituduh mencuri flashdisk guru hanya karena dia duduk paling dekat dengan meja guru. Tidak ada yang benar-benar tahu kejadiannya, termasuk aku. Tapi entah kenapa, guru kami langsung menunjuknya. Mungkin karena Rani memang jarang bicara, sering absen, dan dianggap "bermasalah".


Suasana kelas tiba-tiba mencekam. Tak ada yang berkata apa-apa. Termasuk aku. Aku ingin bilang, “Pak, saya rasa tuduhan itu berat tanpa bukti.” Tapi suara itu hanya muncul di kepalaku. Di dunia nyata, aku hanya duduk kaku. Rani hanya menunduk, lalu pergi dengan mata yang berkaca.

Sorenya, aku tidak bisa tenang. Aku mencoba menyibukkan diri dengan tugas dan ponsel, tapi bayangan Rani terus muncul. Aku marah. Tapi bukan pada guru. Bukan pada teman-teman. Aku marah pada diriku sendiri. Karena aku tahu aku bisa bicara. Tapi aku memilih diam. Diam yang menyakitkan, bahkan untuk diriku sendiri.


Sejak kecil, kita tumbuh dengan nasihat bahwa “diam itu emas.” Tapi tidak pernah diajarkan kapan diam bisa jadi berbahaya. Aku mulai berpikir, mungkin diam itu bukan emas—kalau yang kita hadapi adalah ketidakadilan. Mungkin diam justru bisa berubah menjadi duri, pelan-pelan menyakiti orang lain yang berharap ada yang membelanya.


Aku jadi ingat kata seseorang: “Dunia ini tidak rusak karena banyak orang jahat, tapi karena banyak orang baik yang memilih diam.” Dan sejak saat itu, kalimat itu terasa sangat nyata buatku.

Kita hidup di dunia yang sering kali membuat suara berbeda dianggap ancaman. Kita diajarkan untuk tidak ribut, tidak membuat keributan, tidak menentang arus. Tapi bukankah perubahan selalu dimulai dari seseorang yang berani bersuara, meski kecil?


Tidak semua orang bisa menjadi orator hebat atau pembela kebenaran di depan banyak orang. Tapi semua orang punya suara. Suara itu tidak harus keras, tidak harus penuh amarah. Cukup jujur. Cukup tulus. Cukup untuk menunjukkan bahwa kita peduli.


Aku tidak ingin jadi orang yang hanya diam lagi. Mungkin aku masih belajar untuk bicara di saat yang tepat. Mungkin aku belum cukup kuat untuk selalu tampil paling depan. Tapi setidaknya, aku tidak akan lagi membiarkan diriku tenggelam dalam diam yang membunuh nurani.


Sekarang, setiap kali ada hal yang membuat hatiku tidak nyaman, aku berhenti sejenak dan bertanya pada diriku sendiri: “Apakah diamku membantu, atau justru melukai?”


Dan jika aku tahu diam itu akan melukai, maka aku akan bicara. Meski pelan. Meski gemetar. Karena mungkin, di saat itu, suaraku adalah satu-satunya yang dibutuhkan.

Komentar