Ditulis oleh : Zikrah Nur Amalah
Jakarta, TrendNews - Jakarta sering bikin orang capek. Jalanan macet, udara panas, suara kendaraan tiada henti. Hidup di kota ini rasanya seperti dikejar waktu terus-menerus. Di tengah suasana itu, ada satu tempat yang bisa bikin kita merasa lega: Ragunan.
Ragunan bukan cuma kebun binatang. Begitu masuk ke dalamnya, kita bisa langsung merasakan beda. Suara bising kendaraan hilang, berganti dengan kicau burung dan angin yang sepoi-sepoi. Pohon-pohon besar menaungi jalan, membuat kita merasa seakan sedang liburan di luar kota, padahal masih di Jakarta.
Bagi banyak orang, Ragunan adalah tempat penuh cerita. Anak-anak senang melihat gajah, jerapah, dan monyet bergelantungan. Keluarga datang untuk piknik sambil membuka bekal di atas tikar. Pasangan muda jalan beriringan, sambil bercanda ringan. Semua orang bercampur, dari berbagai latar belakang, tanpa ada yang merasa berbeda.
Yang membuat Ragunan istimewa adalah suasana kebersamaan yang jarang kita temui di Jakarta. Di sini, orang bisa santai, duduk diam di bawah pohon, atau tertawa lepas melihat tingkah binatang. Hal-hal sederhana yang sering hilang di tengah kerasnya kehidupan kota.
Tapi saya juga punya rasa khawatir. Kalau tidak dijaga, Ragunan bisa saja hilang pelan-pelan. Bisa jadi pohon ditebang, lahan dipakai untuk bangunan, atau satwanya kurang terurus. Kalau sampai itu terjadi, kita bukan hanya kehilangan kebun binatang, tapi juga kehilangan tempat hijau yang membuat Jakarta terasa lebih manusiawi.
Menurut saya, Ragunan harus kita anggap lebih dari sekadar tempat jalan-jalan murah. Ragunan adalah “paru-paru” kota, tempat warga bisa berhenti sejenak dari penatnya hidup. Ia mengingatkan kita bahwa kota bukan cuma soal jalan tol dan gedung tinggi, tapi juga soal manusia yang butuh ruang tenang.
Selama Ragunan ada, kita masih punya alasan untuk percaya bahwa Jakarta tidak sepenuhnya melupakan warganya. Menjaga Ragunan sama saja dengan menjaga diri kita sendiri, supaya tetap bisa bernapas lega di tengah padatnya kota.
Komentar
Posting Komentar